Senin, 24 Juni 2013

Makalah Manajemen Keuangan tentang Saham


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pada makalah ini akan membahas aplikasi konsep tersebut untuk menilai harga sauatu asset, khususnya surat berharga. Harga (nilai) surat berharga pada dasarnya adalah present value dari aliran kas masa mendatang yang akan diberikan kepada pemegang surat berharga tersebut. Beberapa jenis surat berharga mempunyai skedul pemberian aliran kas dimasa mendatang yang cukup jelas, sedangkan beberapa jenis yang lain mempunyai skedul pemberian aliran kas yang tidak cukup jelas. Meskipun demikian basis penilaian yang dipakai cukup sama, yaitu present value aliran kas dimasa mendatang. Pembahasan ini dimulai dengan membicarakan penilaian obligasi, diteruskan sampai kepenilaian saham dan saham preferen, dan diakhiri dengan pembicaraan aplikasi konsep penilaian untuk menilai perusahaan.
B.     Rumusan Masalah
1. Apa definisi pasar modal?
2. Apa saja jenis-jenis surat berharga?
3. Apa saja metode penilaian surat berharga?
BAB II
ISI
A.    Definisi dan Instrumen Pasar Modal
Pasar Modal adalah tempat perusahaan mencari dana segar untuk mengingkatkan kegiatan bisnis sehingga dapat mencetak lebih banyak keuntungan. Dana segar yang ada di pasar modal berasal dari masyarakat yang disebut juga sebagai investor. Para investor melakukan berbagai teknik analisis dalam menentukan investasi di mana semakin tinggi kemungkinan suatu perusahaan menghasilkan laba dan semakin kecil resiko yang dihadapi maka semakin tinggi pula permintaan investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.
Pada pasar modal pelakunya dapat berupa perseorangan maupun organisasi (perusahaan). Bentuk yang paling umum dalam investasi pasar modal adalah saham dan obligasi. Saham dan obligasi dapat berubah-ubah nilainya karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Saat ini pasar modal di Indonesia adalah Bursa Efek Jakarta atau yang disingkat BEJ dan Bursa Efek Surabaya atau yang disingkat BES.
Instrument pasar modal adalah instrument yang mempunyai jangka waktu yang lebih dari satu tahun. Beberapa contoh instrument keuangan tersebut adalah obligasi, saham, preferen dan saham biasa. Obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau pemerintah. Obligasi biasanya menyebutkan nilai nominal, kupon bunga, dan jangfka waktu. Perjanjian lain bisa disebut, misal adanya jaminan atau tidak. Jangka waktu obligasi bisa mencapai 10 tahun, bahkan ada yang sampai 90 tahun (di luar negeri) bahkan ada yang tidak mempunyai jatuh tempo (consol).
Saham dimasukkan ke dalam instrument pasar modal, karena saham akan selalu ada jika perusahaan yang mengeluarkan saham masih ada. Saham tersebutmungkin berpindah kepemilikan dari satu investor ke investor lainnya. Tetapi saham tersebut masih tetap ada. Saham preferen menggabungkan karakteristik saham dengan obligasi. Saham preferen merupakan saham (yang berarti kepemilikan), tetapi membayar dividen yang relative tetap (seperti bunga obligasi). Di samping ketiga jenis sekuritas tersebut, masih ada jenis-jenis lain, seperti waran, konvertibel, dan lainnya.
B.     Jenis-Jenis Surat Berharga
1.      Obligasi
Obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan atau Negara. Jangka waktu jatuh tempo obligasi bermacam-macam, ada yang relative pendek seperti satu tahun, danada yang jangka panjang, yaitu 30 tahun. Obligasi mempunyai ciri pembayaran bunga yang bersifat tetap untuk setiap periodenya.
Beberapa istilah kunci yang berkaitan dengan obligasi adalah sebagai berikut :
1.      Nilai nominal (par value)
Nilai nominal adalah harga yang tercantum pada surat obligasi. Nilai tersebut mencerminkan harga yang akan dibayarkan oleh penerbit obligasi pada saat jatuh tempo.
2.      Kupon tingkat bunga
Kupon tingkat bunga adalah tingkat bunga (dalam presentase berdasarkan nilai nominal) yang akan dibayarkan oleh pihak penerbit obligasi.
3.      Jatuh tempo
Jangka waktu atau jatuh tempo suatu obligasi biasanya ditetapkan dalam satuan tahun Pada saat jatuh tempo, penerbit obligasi mempunyai kewajiban untuk melunasi pemegang obligasi sebesar nilai nominalnya.
4.      Saham preferen
Saham preferen (preferen stock) adalah saham yang disertai dengan preferensi tertentu diatas saham biasa dalam hal pembagian dividen dan pembagian kekayaan dalam pembubaran perusahaan.
Saham preferen ini biasanya memberikan dividen yang tetap setiap tahunnya seperti halnya obligasi. Pada umumnya saham preferen ini tidak mempunyai hari jatuh (perpeturity).
Rate of return dari saham ini dapat ditentukan denga rumus sebagai berikut:
dividen per lembar saham preferen
Rate of return = harga pasar
contoh:
 suatu saham preferen mempuyai haraga nominal Rp 1.000,00 dan memba
yarkan dividen tahunan sebesar Rp 50,00 dengan harga pasar Rp 750,00. Berapa besarnya rate of return dari saham preferen tersebut?
Besarnya rate of return dari saham prefeeren tersebut adalah =
= 6,67%
5.      Saham biasa
Saham merupakan bukti kepemilikan. Seseorang yang mempunyai saham suatu perusahaan berarti dia memiliki perusahaan tersebut. Pemegang saham berhak atas dividen, jika dividen tersebut dibayarkan. Sama seperti pada penilaian obligasi, penilaian saham juga didasarkan atas present value aliran kas yang akan diterima oleh pemegang saham dimasa mendatang. Karena pemegang saham akan menerima dividen dan capital gain (loss), maka aliran kas yang relevan untuk pemegang saham adalah dividen dan capital gain. Capital gain (loss) adalah selisih antara harga jual dengan harga beli.
C.     Metode Penilaian Surat Berharga
1.      Metode Penilaian Obligasi
a)      Penilaian Obligasi Berdasarkan Kas
Nilai suatu obligasi bisa dihitung sebagai presaent value dari aliran kas yang akan diterima dimasa mendatang oleh pemegang obligasi. Misalkan suatu obligasi mempunyai nilai nominal sebesar Rp 1 juta, dengan kupon bunga sebesar 20%, dibayarkan setiap tahun, jangka waktu 10 tahun. Misalkan tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk obligasi tersebut adalah 20%. Harga obligasi tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini.
Harga = +
Pada contoh diatas, pembayaran bunga setiap tahun adalah 20% x Rp 1 juta = Rp 200.000. sedangkan nilai nominal adalah Rp 1 juta. Dengan demikian harga obligasi tersebut adalah :
Harga = + …………….. + +
Harga = [ PVIFA (20%, 10) X Rp 200.00,00] + [PVIF (20%,10) X Rp 1 juta]
= (4,1294 X Rp 200.000,00) + (0,1615 x Rp 1 juta)
= 838.480 + 161.500 = 999.980
b)      = Rp 1 juta (pembulatan karena ada selisih desimal)
c)      Yield To Maturity (YTM), Yield To Call (YTC), dan Yield
YTM adalah tingkat keuntungan yang diperoleh pemegang obligasi, jika obligasi tersebut dipegang sampai jatuh tempo (mature). Misalkan kita ditawari obligasi dengan karakteristik kupon bunga 20%, nilai nominal Rp 1 juta, jangka waktu 10 tahun. Harga penawaran adalah Rp 900.000,00. Kemudian kita berniat memegang obligasi tersebut samapi jatuh tempo. Berapa tingkat keuntungan atau YTM investasi pada obligasi tesebut?
Aliran kas pada persoalan diatas bisa dilihat sebagai berikut ini.
900 ribu = + ………….. + +
jika kita menerima tawaran tersebut, kita akan mengeluarkan kas sebesar Rp 900.000,00 pada awal periode, kemudian kita akan menerima kas masuk sebesar Rp 200.000,00, setiap tahun selama 10 tahun. Pada tahun kesepuluh, kita akan menerima juga pokok pinjaman (nilai nominal) sebesar Rp 1 juta. YTM merupakan yang menyamakan sisi kiri dengan sisi kanan dalam persamaan diatas. Dengan menggunakan Excel (fungsi IRR), kita bisa memperoleh YTM sebesar 22,6% dengan kata lain, meskipun kupon bunga adalah 20%, tetapi tingkat keuntungan efektif adalah 22,6% (lebih besar). Hal ini terjadi karena kita membayar Rp 990 ribu, lebih rendah dari nilai nominalnya.
Jika kita ingin menghitung YTM secara manual, missal menggunakan table, kita harus melakukan coba-coba (trial and error). Kita akan memasang tingkat diskonto, sedemikian rupa sampai akhirnya ditemukan tingkat diskonto yang menyamakan sisi kiri dengan sisi kanan. Sebagai contoh, kita mulai dengan tingkat diskonto 22%. Dengan tingkat diskonto 22%, PV aliran kas sisi kanan adalah :
PV = [200 ribu / (1+0,22)1] + … + [200 ribu / (1+0,22)10] + [1 juta / (1 +
,22)10]
= 921536,3
Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan sisi kiri (900 ribu). Karena itu pembaginya harus diperbesar, agar present value yang diperoleh menjadi semakin kecil. Misalkan tingkat diskonto kita naikkan menjadi 23%, maka PV aliran kas sisi kanan menjadi :

PV = [200 ribu / (1+0,23)1] + … + [200 ribu / (1+0,23)10] + [1 juta / (1 +
,23)10]
= 886.021,9
d)     Obligasi Dengan Tingkat Bunga Setiap Semester
Beberapa atau kebanyakan obligasi membayar bunga saetiap tahun, tetapi beberapa kali setiap tahun. Biasanya obligasi membayar bunga setiap semester (setengah tahun). Perhitungan harga obligasi dengan bunga setiap semester pada dasarnya sama, tetapi ada beberapa penyesuaian :
1) Kupon bunga dibagi dua (karena bunga dibayar setiap semester)
2) Jangka waktu obligasi dibagi dua
3) Tingkat diskonto juga dibagi dua.
Berikut ini formula yang dipakai untuk menghitung obligasi dengan karakteristik seperti disebutkan diatas:
Harga = +
Kembali kecontoh diatas, yaitu obligasi dengan nilai nominal Rp 1 juta, jangka waktu 10 tahun, kupon bunga 20% dan dibayar setiap semester. Berapa harga obligasi tersebut? Kupon bunga yang dibayarkan adalah Rp 200.000,00 pertahun, atau Rp 100.000,00 per semester. Jangka waktu obligasi menjadi 2 x 10 = 20. Misalkan tingkat diskonto (kd) adalah 20%, maka nilai obligasi adalah,
PV = [100 ribu / (1+0,1)1] + … + [100 ribu / (1+0,1)20] + [1 juta / (1+0,1)20]
= 1.000.000
Jika tingkat diskonto menjadi 25% pada tahun berikutnya, nilai obligasi adalah:x

PV = [100 ribu / (1+0,125)1] + … + [100 ribu / (1+0,125)18] + [1 juta /
1+0,1)18]
= 824.004,1
e)      Resiko tingkat bunga
Tingkat bunga bisa berubah-ubah tergantung banyak factor. Sebagai contoh, jika inflasi meningkat, maka tingkat bunga cenderung akan meningkat. Jika seseorang investor memebeli obligasi dengan tingkat bunga tetap (misal 20%) selama sepuluh tahun, maka ia akan menerima 20% selama sepuluh tahun. Jika tingkat bunga meningkat menjadi 30% pertahun, investor tersebut akan mengalami kerugian (karena Cuma memperoleh 20%), dan sebaliknya. Hal yang sebalikya akan terjadi dengan perusahaan yang mengeluarkan obligasi tersebuts (perusahaan tersebut menglami keuntungan). Dengan kata lain investor tersebut mengalami resiko penginvestasian kembali (reinvestment risk).
f)       Jangka waktu obligasi
Eksposur terhadap risiko tingkat bunga tersebut tergantung dri beberapa factor. Salah satu factor adalah jangka waktu obligasi. Obligasi dengan jangka waktu lebih panjang, ceteris paribus, mempunyai eksposur tingkat bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi dengan jangka waktu yang lebih pendek. Sebagai contoh, missal ada dua obligasi yang sama-sama mempunyai kupon bunga sebesar 20% dengan nominal Rp 1 juta. Obligasi pertama (A) mempunyai jangka waktu lima tahun, sedangkan Obligasi kedua (B) mempunyai jangka waktu duapuluh tahun. Misalkan tahun berikutnya tigkat bunga berubah menjadi 25%, 235, 20% (tetap), 18%, dan 15%. Table berikut ini menyajikan nilai kedua obligasi tingkat diskonto yang berubah.
Table 2. Harga obligasi jangka panjang dan pendek untuk tingkat buga yang berbeda.
g)      Obligasi tanpa bunga dan obligasi dengan kupon bunga
Obligasi tanpa bunga adalah obligasi yang tidak membayarkan bunga sebelum jatuh tempo. Obligasi tersebut dinamakan juga sebagai zero coupon bond atau zeroes. Obligasi tersebut berbeda dengan obligasi biasa (yang dengan bunga), karena obligasi biasa membayarkan bunga setiap periode tertentu (missal tahun), sampai jatuh tempo. Formula untuk menghitung harga obligasi tanpa kupon adalah sebagai berikut.
Harga = Nilai Nominal / (1 + r)n
Dimana r = tingkat bunga
n = periode
sebagai contoh, missal PT A mengeluarkan obligasi tanpa bunga dengan nilai nominal Rp 1 juta, jangka waktu 5 tahun. Jika tingkat diskonto yang relevan (kd) adalah 20%, maka harga obligasi tersebut dihitung sebagai berikut ini.
PV = 1 juta / (1 + 0,2)5 = Rp 401.878,00
Obligasi tersebut mempunyai harga Rp 401.878,00. Tingkat bunga yang akan diperoleh oleh pemegang obligasi jika obligasi tanpa bung tersebut dipegang sampai jatuh tempo adalah 20%.
2.      Metode Penilaian Saham
a.       Penilaian saham yang dipegang satu periode
Dengan rumus:
Po = PV
dimana P0 = PV = Harga Saham Yang Pantas
D1 = dividen yang akan dibayarkan satu tahun mendatang
P1 = harga saham satu tahun mendatang
Ks = tingkat keuntungan yang disayaratkan untuk saham tersebut
Untuk contoh diatas, harga saham yang pantas adalah
P0 = [Rp 200 / (1+0,2)1] + [Rp 1.400 / (1+0,2)1]
= Rp 1.334
b.      Penilaian saham yang dipegang selamanya
Sering disebut dengan model penilaia deviden (dividend valuation model).
Ada beberapa variasi dalam model tersebut :
i.                    Model dividen konstan
ii.                  Model dividend tumbuh dengan tingkat pertumbuhan yang konstan
iii.                Model dividend dengan tingkat pertumbuhan yang berbeda (tidak konstan).
3.       Metode Penilaian Saham Preferen
Saham preferen mempunyaikarakteristik gabungan antara karakteristik saham dengan obligasi. Saham preferen membayarkan dividen (mirip seperti saham), tetapi dividen tersebut dibayar tetap berdasrkan persentase tertentu dari nilai nominal saham preferen. Sebagai contoh, jika saham preferen mempunyai dividen sebesar 10% dengan nilai Rp 1.000,00, maka dividen untuk pemegang saham preferen adalah Rp 100,00 per lembar. Karakteristik semacam itu mempunyai kemiripan dengan obligasi. Tetapi ada perbedaan lain. Karena dividen yang dibayarkan, perusahaan tidak mempunyai kewajiban untuk membayarkan dividen tersebut. Jika perusahaan gagal membayarkan dividen, maka perusahaan tidak bisa dibangkrutkan. Hal semacam itu berbeda dengan obligasi.
Misalkan saham preferen mempuyai dividen sebesar 20%, dengan nilai nominal Rp 1.000,00 = Rp 200,00. Misalkan tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk saham preferen adalah 15%, berapa harga saham preferen tersebut yang pantas?
Aliran kas pemegang saham preferen bisa digambarkan sebagai berikut ini.
Harga = + + … +
Dividen yang diterima oleh pemegang saham preferen adalah 20% x Rp 1000,00 = Rp 200,00. Diasumsikan dividen tersebut akan dibayar secara regular per tahun, dan saham preferen dipegang selamanya. Harga tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini.
Harga = 200/0,15 = Rp 1.333.333,00
Dengan demikian formula untuk menghitung harga saham preferen adalah :
PV = (D / kp)
Dimana PV = Harga saham preferen
D = dividen saham preferen
Kp = Tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk saham preferen tersebut.
BAB III
 KESIMPULAN
a.       Yang disebut pasar modal adalah tempat perusahaan mencari dana segar untuk mengingkatkan kegiatan bisnis sehingga dapat mencetak lebih banyak keuntungan.
b.      Jenis-jenis surat berharga :
Obligasi adalah surat pengakuan utang yang dikeluarkan oleh atauØ perusahaan atau lembaga-lembaga lain sebagai pihak yang behutang yang mempunyai nilai nominal tertentu dan kesanggupan untuk membayar bunga secara periodic atas dasar persentase tesebut yang tetap.
Saham preferen (preferen stock) adalah saham yang disertai dengan preferensi tertentu diatas saham biasa dalam hal pembagian dividend an pembagian kekayaan dalam pembubaran perusahaan.
Saham biasa, saham merupakan bukti kepemilikan. Sseorang yangØ mempunyai saham suatu perusahaan berarti dia memeliki perusahaan tersebut. Pemegang saham berhak atas dividend, jika divedent tersbut dibayarkan.
c.       Penilaian Surat Berharga
 Penilaian Obligasi :
1. Penilaian obligasi berdasarkan aliran kas
2. Yield To Maturity (YTM), Yield To Call (YTC), dan Yield
3. Obigasi dengan tingkat bunga satu semester
4. Risiko tingkat bunga
5. Jangka waktu obligasi
6. Obligaasi tanpa bunga dan obligasi dengan kupon bunga
Penilaian Saham
1. Penilaian saham yang dipegang satu periode
2. Penilaan saham yang dipegang selamanya
3. Model Dividen konstan
4. Model Diveden tumbuh dengan tingkat pertumbuhan yang konstan
5. modelDiveden dengan tingkat pertumbuhan yang berbeda (tidak konstan)
6. sumber pertumbuhan
DAFTAR PUSTAKA
http://organisasi.org/pengertian-arti-definisi-pasar-modal-penjelasan-dasar-mengenai- investasi-perdagangan-pasar-modal-indonesia.
Bambang Rianto, 1997, Dasar - dasar Pembelajaran Perusahaan Edisi 4, BPFE, Yogyakarta.
Mamduh M. Hanafi, 2004, Manajemen Keuangan, Edisi 2004/2005, BPFE, Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Menarik Lainnya :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar